Cara Perhitungan
Subnetting ini, sangatlah penting untuk kita ketika
belajar jaringan. Dengan kita paham tentang cara
perhitungan subnetting, maka kita akan mudah membangun sebuah jaringan.
Sebenarya, saya ingin sekali membuat tulisan ini sendiri, tetapi, saya melihat
sebuah artikel yang sangat bagus dari cara perhitungan subnetting ini dengan
sangat jelas dan rinci. saya ambil tulisan ini dari blog pribadinya om romi
satria wahono. Semoga tulisan beliau bermanfaat bagi kita semua. amin.
Pada tulisan pertama ini, beliau kasih judul “memahami
konsep subnetting“. ini merupakan dasar bagi kita yang belum begitu paham
mengenai jaringan:
Konsep Subnetting, Siapa Takut?
Subnetting adalah termasuk materi
yang banyak keluar di ujian CCNA dengan berbagai variasi soal.
Juga menjadi momok bagi student atau instruktur yang sedang menyelesaikan
kurikulum CCNA 1 program CNAP (Cisco Networking Academy Program). Untuk
menjelaskan tentang subnetting, saya biasanya menggunakan beberapa ilustrasi
dan analogi yang sudah kita kenal di sekitar kita. Artikel ini sengaja saya
tulis untuk rekan-rekan yang sedang belajar jaringan, yang mempersiapkan diri
mengikuti ujian CCNA, dan yang sedang mengikuti pelatihan CCNA 1.Setelah selesai
membaca ini, silakan lanjutkan dengan artikel Penghitungan Subnetting, Siapa
Takut?.
Sebenarnya
subnetting itu apa dan kenapa harus dilakukan? Pertanyaan ini bisa dijawab
dengan analogi sebuah jalan. Jalan bernama Gatot Subroto terdiri dari beberapa
rumah bernomor 01-08, dengan rumah nomor 08 adalah rumah Ketua RT yang memiliki
tugas mengumumkan informasi apapun kepada seluruh rumah di wilayah Jl.
Gatot Subroto.

Ketika rumah
di wilayah itu makin banyak, tentu kemungkinan menimbulkan keruwetan dan kemacetan.
Karena itulah kemudian diadakan pengaturan lagi, dibuat gang-gang, rumah yang
masuk ke gang diberi nomor rumah baru, masing-masing gang ada Ketua RTnya
sendiri-sendiri. Sehingga ini akan memecahkan kemacetan, efiesiensi dan
optimalisasi transportasi, serta setiap gang memiliki previledge
sendiri-sendiri dalam mengelola wilayahnya. Jadilah gambar wilayah baru seperti
di bawah:

Konsep
seperti inilah sebenarnya konsep subnetting itu. Disatu sisi
ingin mempermudah pengelolaan, misalnya suatu kantor ingin membagi kerja
menjadi 3 divisi dengan masing-masing divisi memiliki 15 komputer (host).
Disisi lain juga untuk optimalisasi dan efisiensi kerja jaringan, karena jalur
lalu lintas tidak terpusat di satu network besar, tapi terbagi ke beberapa ruas-ruas
gang. Yang pertama analogi Jl Gatot Subroto dengan rumah disekitarnya dapat
diterapkan untuk jaringan adalah seperti NETWORK ADDRESS (nama jalan) dan HOST
ADDRESS (nomer rumah). Sedangkan Ketua RT diperankan oleh BROADCAST ADDRESS
(192.168.1.255), yang bertugas mengirimkan message ke semua host yang ada di
network tersebut.

Masih
mengikuti analogi jalan diatas, kita terapkan ke subnetting jaringan adalah
seperti gambar di bawah. Gang adalah SUBNET, masing-masing subnet memiliki HOST
ADDRESS dan BROADCAST ADDRESS.

Terus apa
itu SUBNET MASK? Subnetmask digunakan untuk membaca bagaimana kita
membagi jalan dan gang, atau membagi network dan hostnya. Address mana
saja yang berfungsi sebagai SUBNET, mana yang HOST dan mana yang
BROADCAST. Semua itu bisa kita ketahui dari SUBNET MASKnya. Jl Gatot Subroto
tanpa gang yang saya tampilkan di awal bisa dipahami sebagai menggunakan SUBNET
MASK DEFAULT, atau dengan kata lain bisa disebut juga bahwa Network tersebut
tidak memiliki subnet (Jalan tanpa Gang). SUBNET MASK DEFAULT ini untuk
masing-masing Class IP Address adalah sbb:
CLASS
|
OKTET
PERTAMA
|
SUBNET MAS
DEFAULT
|
PRIVATE
ADDRESS
|
A
|
1-127
|
255.0.0.0
|
10.0.0.0-10.255.255.255
|
B
|
128-191
|
255.255.0.0
|
172.16.0.0-172.31.255.255
|
C
|
192-223
|
255.255.255.0
|
192.168.0.0-192.168.255.255
|
Setelah anda
selesai membaca artikel ini, silakan lanjutkan dengan membaca artikel
Penghitungan Subnetting, Siapa Takut?.
Lalu, beliau menambahkan tentang artikel yang lainnya
yaitu “Memahami Perhitungan Subnetting dengan Mudah”
Penghitungan Subnetting, Siapa Takut?
Setelah anda membaca artikel Konsep
Subnetting, Siapa Takut? dan memahami konsep Subnetting dengan baik. Kali ini
saatnya anda mempelajari teknik penghitungan subnetting. Penghitungan
subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan
cara khusus yang lebih cepat. Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang
subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per
Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.
Penulisan IP
address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan
192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan
subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari
penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan
kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000
(255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain
Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.
Pertanyaan
berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan
subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah:
|
|
SUBNETTING
PADA IP ADDRESS CLASS C
Ok, sekarang
mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah
NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ?
Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C dengan
Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).
Penghitungan: Seperti sudah saya sebutkan
sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah
subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang
valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:
1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah
banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk
kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22
= 4 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y
adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir
subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host
3. Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir
subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi
subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4. Bagaimana dengan alamat host dan
broadcast yang valid? Kita langsung buat tabelnya. Sebagai catatan, host
pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum
subnet berikutnya.
Subnet
|
192.168.1.0
|
192.168.1.64
|
192.168.1.128
|
192.168.1.192
|
Host
Pertama
|
192.168.1.1
|
192.168.1.65
|
192.168.1.129
|
192.168.1.193
|
Host
Terakhir
|
192.168.1.62
|
192.168.1.126
|
192.168.1.190
|
192.168.1.254
|
Broadcast
|
192.168.1.63
|
192.168.1.127
|
192.168.1.191
|
192.168.1.255
|
Kita sudah
selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi
untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask
yang bisa digunakan untuk subnetting class C adalah seperti di bawah. Silakan
anda coba menghitung seperti cara diatas untuk subnetmask lainnya.
Subnet
Mask
|
Nilai CIDR
|
255.255.255.128
|
/25
|
255.255.255.192
|
/26
|
255.255.255.224
|
/27
|
255.255.255.240
|
/28
|
255.255.255.248
|
/29
|
255.255.255.252
|
/30
|
SUBNETTING
PADA IP ADDRESS CLASS B
Berikutnya
kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class B. Pertama,
subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah seperti
dibawah. Sengaja saya pisahkan jadi dua, blok sebelah kiri dan kanan
karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang “dimainkan”
berdasarkan blok subnetnya. CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan
subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet
ketiga, bukan seperti Class C yang “dimainkan” di oktet keempat. Sedangkan CIDR
/25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita “mainkan” di oktet keempat, tapi
setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.
|
|
Ok, kita
coba dua soal untuk kedua teknik subnetting untuk Class B. Kita mulai dari yang
menggunakan subnetmask dengan CIDR /17 sampai /24. Contoh network address 172.16.0.0/18.
Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan
Subnet Mask /18 berarti 11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0).
Penghitungan:
1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah
banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah Subnet adalah 22
= 4 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y
adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir.
Jadi jumlah host per subnet adalah 214 – 2 = 16.382 host
3. Blok Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya
adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64,
128, 192.
4. Alamat host dan broadcast yang
valid?
Subnet
|
172.16.0.0
|
172.16.64.0
|
172.16.128.0
|
172.16.192.0
|
Host
Pertama
|
172.16.0.1
|
172.16.64.1
|
172.16.128.1
|
172.16.192.1
|
Host
Terakhir
|
172.16.63.254
|
172.16.127.254
|
172.16.191.254
|
172.16.255.254
|
Broadcast
|
172.16.63.255
|
172.16.127.255
|
172.16.191.255
|
172.16..255.255
|
Berikutnya
kita coba satu lagi untuk Class B khususnya untuk yang menggunakan subnetmask
CIDR /25 sampai /30. Contoh network address 172.16.0.0/25.
Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan
Subnet Mask /25 berarti 11111111.11111111.11111111.10000000 (255.255.255.128).
Penghitungan:
1. Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 27 – 2 = 126 host
3. Blok Subnet = 256 – 128 = 128. Jadi lengkapnya
adalah (0, 128)
4. Alamat host dan broadcast yang valid?
Subnet
|
172.16.0.0
|
172.16.0.128
|
172.16.1.0
|
…
|
172.16.255.128
|
Host
Pertama
|
172.16.0.1
|
172.16.0.129
|
172.16.1.1
|
…
|
172.16.255.129
|
Host
Terakhir
|
172.16.0.126
|
172.16.0.254
|
172.16.1.126
|
…
|
172.16.255.254
|
Broadcast
|
172.16.0.127
|
172.16.0.255
|
172.16.1.127
|
…
|
172.16.255.255
|
Masih
bingung juga? Ok sebelum masuk ke Class A, coba ulangi lagi dari Class C, dan
baca pelan-pelan 
SUBNETTING
PADA IP ADDRESS CLASS A
Kalau sudah
mantab dan paham, kita lanjut ke Class A. Konsepnya semua sama saja.
Perbedaannya adalah di OKTET mana kita mainkan blok subnet. Kalau Class
C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet 3 dan 4 (2 oktet terakhir), kalau
Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa
digunakan untuk subnetting class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai
/30.
Kita coba
latihan untuk network address 10.0.0.0/16.
Analisa: 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan
Subnet Mask /16 berarti 11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).
Penghitungan:
1. Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 216 – 2 = 65534 host
3. Blok Subnet = 256 – 255 = 1. Jadi subnet
lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc.
4. Alamat host dan broadcast yang valid?
Subnet
|
10.0.0.0
|
10.1.0.0
|
…
|
10.254.0.0
|
10.255.0.0
|
Host
Pertama
|
10.0.0.1
|
10.1.0.1
|
…
|
10.254.0.1
|
10.255.0.1
|
Host
Terakhir
|
10.0.255.254
|
10.1.255.254
|
…
|
10.254.255.254
|
10.255.255.254
|
Broadcast
|
10.0.255.255
|
10.1.255.255
|
…
|
10.254.255.255
|
10.255.255.255
|
Mudah-mudahan
sudah setelah anda membaca paragraf terakhir ini, anda sudah memahami
penghitungan subnetting dengan baik. Kalaupun belum paham juga, anda ulangi
terus artikel ini pelan-pelan dari atas. Untuk teknik hapalan subnetting yang
lebih cepat, tunggu di artikel berikutnya 
Catatan: Semua penghitungan subnet diatas
berasumsikan bahwa IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) dihitung secara
default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah 2005 sudah
mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-2005
tidak memasukkannya secara default (meskipun di kenyataan kita bisa
mengaktifkannya dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam
beberapa buku tentang CCNA serta soal-soal test CNAP, anda masih menemukan rumus
penghitungan Jumlah Subnet = 2x – 2
Tahap
berikutnya adalah silakan download dan kerjakan soal latihan subnetting. Jangan
lupa mengikuti artikel tentang Teknik Mengerjakan Soal Subnetting untuk
memperkuat pemahaman anda dan meningkatkan kemampuan dalam mengerjakan soal
dalam waktu terbatas.
dan Pada tulisan terakhir, beliau menuliskan tentang “Pola
Soal Subnetting dan Teknik Mengerjakannya“
Pola Soal Subnetting dan Teknik Mengerjakannya
by Romi
Satria Wahono
Pada saat
mengajar dan memahamkan materi subnetting di kelas networking atau
CCNA, saya biasanya menggunakan metode seperti yang saya tulis di dua artikel
sebelumnya:
1. Memahami Konsep Subnetting
2. Penghitungan Subnetting
Selama ini
lancar-lancar saja dan tingkat pemahaman siswa cukup bagus. Kebetulan kemarin
(6 Mei 2007) saya berkesempatan mencoba metode yang sama untuk ngajar
adik-adik SMKN 1 Rangkasbitung. Pemahaman bisa masuk, hanya ada sedikit
permasalahan pada saat mengerjakan soal karena variasi soal yang
beragam. Supaya lebih tajam lagi, saya perlu sajikan satu topik khusus
teknik mengerjakan soal-soal subnetting dengan berbagai pola yang ada. Anggap
saja ini adalah materi berikutnya dari dua materi sebelumnya. Contoh-contoh
soal lengkap bisa download dari sini.
1. SOAL
MENANYAKAN SUBNETMASK DENGAN PERSYARATAN JUMLAH HOST ATAU SUBNET
Soal yang
menanyakan subnetmask apa yang sebaiknya digunakan dengan batasan jumlah host
atau subnet yang ditentukan dalam soal. Untuk menjawab soal seperti ini kita
gunakan rumus menghitung jumlah host per subnet, yaitu 2y – 2,
dimana y adalah banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnetmask. Dan apabila
yang ditentukan adalah jumlah subnet, kita menggunakan rumus 2x
(cara setelah 2005) atau 2x – 2 (cara sebelum 2005), dimana x adalah
banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnetmask.
·
Soal: A company
is planning to subnet its network for a maximum of 27 hosts. Which subnetmask
would provide the needed hosts and leave the fewest unused addresses in each
subnet?
Jawab: Karena kebutuhan host adalah 27, kita tinggal masukkan ke rumus 2y – 2, dimana jawabannya tidak boleh kurang dari (atau sama dengan) 27. Jadi 2y – 2 >= 27, sehingga nilai y yang tepat adalah 5 (30 host). Sekali lagi karena y adalah banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnetmask, maka kalau kita susun subnetmasknya menjadi 11111111.11111111.11111111.11100000 atau kalau kita desimalkan menjadi 255.255.255.224. Itulah jawabannya
Jawab: Karena kebutuhan host adalah 27, kita tinggal masukkan ke rumus 2y – 2, dimana jawabannya tidak boleh kurang dari (atau sama dengan) 27. Jadi 2y – 2 >= 27, sehingga nilai y yang tepat adalah 5 (30 host). Sekali lagi karena y adalah banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnetmask, maka kalau kita susun subnetmasknya menjadi 11111111.11111111.11111111.11100000 atau kalau kita desimalkan menjadi 255.255.255.224. Itulah jawabannya
·
Soal: You have a
Class B network ID and need about 450 IP addresses per subnet. What is the best
mask for this network?
Jawab: 2y – 2 >= 450. Nilai y yang tepat adalah 9 (510 host). Jadi subnetmasknya adalah: 11111111.11111111.11111110.00000000 atau kalau didesimalkan menjadi 255.255.254.0 (itulah jawabannya!
).
Jawab: 2y – 2 >= 450. Nilai y yang tepat adalah 9 (510 host). Jadi subnetmasknya adalah: 11111111.11111111.11111110.00000000 atau kalau didesimalkan menjadi 255.255.254.0 (itulah jawabannya!
·
Soal: Refer to the exhibit. The
internetwork in the exhibit has been assigned the IP address 172.20.0.0. What
would be the appropriate subnet mask to maximize the number of networks
available for future growth?
Soal: Refer to the exhibit. The
internetwork in the exhibit has been assigned the IP address 172.20.0.0. What
would be the appropriate subnet mask to maximize the number of networks
available for future growth?Jawab: Cari jumlah host per subnet yang paling besar, jadikan itu rujukan karena kalau kita ambil terkecil ada kemungkinan kebutuhan host yang lebih besar tidak tercukupi. Jadi untuk soal ini 2y – 2 >= 850. Nilai y yang paling tepat adalah 10 (1022 host). Jadi subnetmasknya adalah 11111111.11111111.11111100.00000000 atau 255.255.252.0
2. SOAL MENGIDENTIFIKASI
JENIS ALAMAT IP
Soal
mengidentifikasi jenis alamat IP bisa kita jawab dengan menghitung blok subnet
dan mencari kelipatannya blok subnet yang paling dekat dengan alamat IP yang
ditanyakan.
o Soal: Which type of address is
223.168.17.167/29?
Jawab: Subnetmask dengan CIDR /29 artinya 255.255.255. 248. Blok subnet= 256-248 = 8, alias urutan subnetnya adalah kelipatan 8 yaitu 0, 8, 16, 24, 32, …, 248. Tidak perlu mencari semu subnet (kelipatan blok subnet), yang penting kita cek kelipatan 8 yang paling dekat dengan 167 (sesuai soal), yaitu 160 dan 168. Kalau kita susun seperti yang dulu kita lakukan di penghitungan subnetting adalah seperti di bawah. Dari situ ketahuan bahwa 223.168.17.167 adalah alamat broadcast.
Jawab: Subnetmask dengan CIDR /29 artinya 255.255.255. 248. Blok subnet= 256-248 = 8, alias urutan subnetnya adalah kelipatan 8 yaitu 0, 8, 16, 24, 32, …, 248. Tidak perlu mencari semu subnet (kelipatan blok subnet), yang penting kita cek kelipatan 8 yang paling dekat dengan 167 (sesuai soal), yaitu 160 dan 168. Kalau kita susun seperti yang dulu kita lakukan di penghitungan subnetting adalah seperti di bawah. Dari situ ketahuan bahwa 223.168.17.167 adalah alamat broadcast.
Subnet
|
…
|
223.168.17.160
|
223.168.17.168
|
…
|
Host
Pertama
|
…
|
223.168.17.161
|
223.168.17.169
|
…
|
Host
Terakhir
|
…
|
223.168.17.166
|
223.168.17.174
|
…
|
Broadcast
|
…
|
223.168.17.167
|
223.168.17.175
|
…
|
3. SOAL
MENGIDENTIFIKASI KESALAHAN SETTING JARINGAN
Teknik
mengerjakan soal yang berhubungan dengan kesalahan setting jaringan
adalah kita harus menganalisa alamat IP, gateway dan netmasknya apakah
sudah bener. Sudah benar ini artinya:
1. Apakah subnetmask yang digunakan di
host dan di router sudah sama
2. Apakah alamat IP tersebut masuk
diantara host pertama dan terakhir. Perlu dicatat bahwa alamat subnet dan
broadcast tidak bisa digunakan untuk alamat IP host
3. Biasanya alamat host pertama
digunakan untuk alamat IP di router untuk subnet tersebut
o Soal: Host A is connected to the LAN,
but it cannot connect to the Internet. The host configuration is shown in the exhibit. What
are the two problems with this configuration?
Jawab: CIDR /27 artinya netmask yang
digunakan adalah 255.255.255.224. Dari sini kita tahu bahwa isian netmask di
host adalah berbeda, jadi salah setting di netmask. Yang kedua blok subnet =
256-224 = 32, jadi subnetnya adalah kelipatan 32 (0, 32, 64, 86, 128, …,
224). Artinya di bawah Router 1, masuk di subnet 198.18.166.32. Alamat gateway
sudah benar, karena biasa digunakan alamat host pertama. Hanya alamat IP
hostnya salah karena 198.18.166.65 masuk di alamat subnet 198.18.166.64
dan bukan 198.18.166.32.
4. SOAL
MENGIDENTIFIKASI ALAMAT SUBNET DAN HOST YANG VALID
Termasuk
jenis soal yang paling banyak keluar, baik di ujian CCNA akademi (CNAP) atau
CCNA 604-801. Teknik mengerjakan soal yang menanyakan alamat subnet dan host
yang valid dari suatu subnetmask adalah dimulai dengan mencari blok subnetnya,
menyusun alamat subnet, host pertama, host terakhir dan broadcastnya, serta
yang terakhir mencocokkan susunan alamat tersebut dengan soal ataupun
jawaban yang dipilih.
o Soal: What is the subnetwork number of a
host with an IP address of 172.16.66.0/21?Jawab: CIDR /21 berarti
255.255.248.0. Blok subnet = 256- 248 = 8, netmasknya adalah kelipatan 8 (0, 8,
16, 24, 32, 40, 48, …, 248) dan karena ini adalah alamat IP kelas B, blok
subnet kita “goyang” di oktet ke 3. Tidak perlu kita list semuanya, kita hanya
perlu cari kelipatan 8 yang paling dekat dengan 66 (sesuai dengan soal),
yaitu 64 dan 72. Jadi susunan alamat IP khusus untuk subnet
172.16.64.0 dan 172.16.72.0 adalah seperti di bawah. Jadi pertanyaan bisa
dijawab bahwa 172.16.66.0 itu masuk di subnet 172.16.64.0
Subnet
|
…
|
172.16.64.0
|
172.16.72.0
|
…
|
Host
Pertama
|
…
|
172.16.64.1
|
172.16.72.1
|
…
|
Host
Terakhir
|
…
|
172.16.71.254
|
172.16.79.254
|
…
|
Broadcast
|
…
|
172.16.71.255
|
172.16.79.255
|
…
|
·
Soal: What is
the subnetwork address for a host with the IP address 200.10.5.68/28?Jawab:
CIDR /28 berarti 255.255.255.240. Blok subnet = 256-240 = 16, netmasknya
adalah kelipatan 16 (0, 16, 32, 48, 64, 80 …, 240). Kelipatan 16 yang
paling dekat dengan 68 (sesuai soal) adalah 64 dan 80. Jadi alamat
IP 200.10.5.68 masuk di alamat subnet 200.10.5.64.
Subnet
|
…
|
200.10.5.64
|
200.10.5.80
|
…
|
Host
Pertama
|
…
|
200.10.5.65
|
200.10.5.81
|
…
|
Host
Terakhir
|
…
|
200.10.5.78
|
200.10.5.94
|
…
|
Broadcast
|
…
|
200.10.5.79
|
200.10.5.95
|
…
|
5. SOAL-SOAL
LAIN YANG UNIK
Selain 4
pola soal diatas, kadang muncul soal yang cukup unik, sepertinya sulit meskipun
sebenarnya mudah. Saya coba sajikan secara bertahap soal-soal tersebut di sini,
sambil saya analisa lagi soal-soal subnetting yang lain lagi 
·
Soal: Which
combination of network id and subnet mask correctly identifies all IP addresses
from 172.16.128.0 through 172.16.159.255?Jawab: Teknik paling mudah
mengerjakan soal diatas adalah dengan menganggap 172.16.128.0 dan
172.16.159.255 adalah satu blok subnet. Jadi kalau kita gambarkan
seperti di bawah:
Subnet
|
…
|
172.16.128.0
|
…
|
Host
Pertama
|
…
|
…
|
|
Host
Terakhir
|
…
|
…
|
|
Broadcast
|
…
|
172.16.159.255
|
…
|
Dari sini berarti kita bisa lihat
bahwa alamat subnet berikutnya pasti
172.16.160.0
, karena rumus alamat broadcast
adalah satu alamat sebelum alamat subnet berikutnya. Nah sekarang jadi ketahuan
blok subnetnya adalah 160-128 =
32
(kelipatan 32), terus otomatis juga
ketahuan subnetmasknya karena rumus blok subnet adalah
256-oktet
terakhir netmask
. Artinya subnetmasknya adalah
255.255.224.0
. Kok tahu kalau letak
224
di oktet ketiga? Ya karena yang kita kurangi
(“goyang”) tadi adalah oktet ketiga.
Subnet
|
…
|
172.16.128.0
|
172.16.160.0
|
…
|
Host
Pertama
|
…
|
…
|
||
Host
Terakhir
|
…
|
…
|
||
Broadcast
|
…
|
172.16.159.255
|
…
|
Masih
bingung? Atau malah tambah pusing? Tarik nafas dulu, istirahat cukup, sholat
yang khusuk dan baca lagi artikel ini pelan-pelan
Insya Allah akan
paham. Amiin
Sumber :
http://romisatriawahono.net/2006/02/10/memahami-konsep-subnetting-dengan-mudah/
http://romisatriawahono.net/2006/02/11/memahami-penghitungan-subnetting-dengan-mudah/
http://romisatriawahono.net/2007/05/07/pola-soal-subnetting-dan-teknik-mengerjakan/
Cara Perhitungan Subnetting Pada
Jaringan
Cara
Perhitungan Subnetting Pada Jaringan memang sangat cocok untuk anda pelajari ketika anda
ingin belajar jaringan dari tingkat dasar. Semoga artikel ini bermanfaat untuk
anda dan jangan sampai lupa saya juga sudah menuliskan tentang Cara memasang kabel UTP
ke Konektor RJ45,
terimakasih dan terus pelajari tentang Cara Perhitungan Subnetting Pada
Jaringan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar